Teman itu adalah karunia. Terlebih ada kedekatan yang membangkitkan gairah iman dan amal bersamanya. (Tarbawi edisi 234)
Cuplikan perbincangan singkat di mail list, tentang thursina junior, thursina family --------------------------------------------------------------------------------------------------- Aslm... Kawan, ide thursina junior itu muncul saat ana menanyakan ke temen2 thursina yg milad bulan ini (maret). Dari pertanyaan simpel yang ana sampaikan, ternyata respon mereka beragam. Ada yang cuma minta satu doa sj, tp ada juga yang banyak minta nya.
"Klo ana mah mau di doakan bs cepat lulus dan cepet nikah.... " kira2 siapa ya ini ??? eits nda perlu disebutin ya..
Nah dari situlah ana jadi kepikiran klo nanti thursiners sdh pada punya keluarga, mungkin nda ya klo kita bikin thursina junior ? Belum tau sih nnt bentuknya kayak gimana krn kan kalian sudah pada mencar semua ya (bahas biologinya dispersal). Dan belum tau juga apakah nnt para mujahid/ah yang lahir dari rahim thursina senior bisa saling kenal dan bisa merasakan atmosfir ukhuwah yang sama
Tapi, tak apalah klo ini hanya baru sekedar khayalan, tapi yang pasti thursina sdh semakin besar ya. Semoga bs tetap istiqomah, lebih baik dari sebelumnya, dan semoga bs senantiasa menjaga hijaunya hingga ke surga nanti. Karena ternyata katanya warna surga itu warna hijau ya ??? Wallahu'alam.
Waslm...
Ikhwan A ---------------------------------------------------------------------------------------------------
Protes Keras ke Ikhwan A: saya blm ditanya mau doa apa.. *penting*
Akhwat B
---------------------------------------------------------------------------------------------------
*sebelum kita bikin Thursina junior, bikin dulu Thursina Family.. Isinya suami atau istrinya masing2, udah ada tuh, Abang abcd ama adik efgh (*nama disamarkan)
jadi thursina solid dari sisi thursina itu sendiri, thursina family, baru deh ntar thursina junior..
Ya Allah semoga beneran sampe surga bareng2 kita..
Akhwat C ------------------------------------------------------------------------------------------------ Akhwat B, kemarin kan ana sudah minta maaf sebelumnya. Karena semalam terlalu asik nulis, jadi kelewatan dah. Oiya, memang Akhwat B mau didoakan apa ? biar nanti bisa di'amin'kan sama temen-temen Thursina yang baik dan sholeh/ah.
Saran Akhwat C bagus tuh, sepertinya harus segera di follow up biar nda nguap gitu aja idenya. Klo boleh kasih masukan, kita harus melakukan maintanance ulang terkait member milis ini, karena ada beberapa yang sudah ganti email atau yang lainnya..
Tafadhol bs segera dieksekusi, ada yang bisa dibantu nda ?.
Ikhwan A ----------------------------------------------------------------------------------------------- dan saya baru sadar, ini judul postingannya ada bacaan untuk thurs'day.. *pas posting hari kamis waktu itu ya*
buat invite yang pada ganti email, saya bisa bantu.. sini-sini didata yang ganti email..
follow up thursina family gimana Ikhwan A? saya sih belum ada ide, paling ide kultural, cuma mengenalkan ada loh ini thursina family..
Akhwat C ------------------------------------------------------------------------------------------------ Subhanallah bapak ikhwan A ini dah, dahsyat idenya Tafadhol utk d eksekusi kan ente jago tuh sbagai eksekutor handal d thursina
Ikhwan D ------------------------------------------------------------------------------------------------ Nah terkait Thursina family ana punya ide gimana klo ada agenda kunjungan "diplomatik" ke masing-masing pasangan. Ini menjadi proses silaturahim kita ke mereka sekaligus sosialisasi tentang seluk-beluk thursina sekaligus nginvite mereka jadi member milis ini. Targetnya paling nda kita bikin agendanya dulu, nda perlu semuanya bs hadir yang penting ada perwakilannya. Usul bs sebulan sekali, mumpung belum banyak yang harus dikunjungi.
Ikhwan A
--------------------------------------------------------------------------------------------------- nanti dibikinin jaket aja, "Thursina Family". Nah, nanti kalo udah ada yang junior, baju bayinya dikasih yang warna ijo terang, terus ada tulisannya "Thursina Junior", kalo perlu tambahin kupluk ijo terang juga, tambah lagi nanti kaos kakinya juga ijo terang, sama sarung tangannya juga boleh.. Nah, silakan dibayangkan.. :D
*saya sering menebak-nebak, kira2 berapa plakat ya yang akan saya buat tahun ini..
Ikhwan E --------------------------------------------------------------------------------------------------- imajinasi tingkat dewanya ikhwan E # boleh juga.. lucu pasti thursina junior ijo2 gitu..
Ayo Ikhwan E tebak berapa.. saya akan tebak berapa bingkai yang akan saya beli tahun ini.. @#$???
Akhwat B ---------------------------------------------------------------------------------------------------
Tiba-tiba, perbincangan di atas jadi berasa seru, menandakan thursina yang dulu memang mulai memasuki dunia-dunia baru. Dulu kami berseragam putih abu-abu, tapi sekarang sudah ada yang jadi calon bapak dan Ibu.. Perbincangan di atas terjadi di milis kami (beberapa kalimat ada yang dihapus). Milis itu kami bentuk dulu saat baru saja lulus dari ranah putih abu-abu. Belakangan milis kami sering sepi, dan tiba-tiba ramai lagi karena ada yang posting tentang Thursina Junior kamis lalu.
Ah iya, kamis itu kami sebut THURSday, Thursina Day..
Ingati bila sunyi, rindui bila jauh, fahami bila keliru, nasihati bila khilaf dan maafkan bila terluka,, Alangkah indahnya ukhuwah bila segalanya karena Allah..
Majulah sahabat mulia, berpisah bukan akhir segalanya.. Perjuangan ini,, demi mencari keridhaan Illahi.. (Footnote Milis Thursina)
"Tidak ada nikmat yang lebih baik dari teman yang shalih, yang diberikan kepada seorang hamba setelah Islam. Jika dia lupa, temannya mengingatkannya, jika dia ingat, ia membantunya. Siapa diantara kalian mendapatkan cinta dari temannya hendaklah ia memegangnya, karena sesungguhnya hal itu sangat jarang ditemukan." (Umar bin Khaththab) Apakah Sampai Padamu Berita Tentang Mahanazi? (Helvy Tiana Rosa)
Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina? Apakah sampai padamu berita tentang rumah-rumah yang dihancurkan tanah-tanah meratap berpindah tuan, bahkan manusia yg dibuldozer?
Apakah sampai padamu berita tentang air mata yang tumpah dan menjelma minuman seharihari tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari?
Apakah sampai padamu berita tentang kanak-kanak yang tak lagi berbapak tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara? Para balita yang menggenggam batu dengan dua tangan mungil mereka menghadang tentara zionis Israel lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi
Apakah sampai padamu berita tentang masjidil Aqsha di halamannya menggenang darah dan tubuhtubuh yang terbongkar Peluru yang berhamburan di udara menyanyikan lagu kematian menyayat nadi kekejaman yang melebihi fiksi dan semua film yang pernah kau tonton di bioskop dan televisi Kebiadaban yang mahanazi
Tapi orangorang di negeriku masih saja mengernyitkan kening: “Palestina? Untuk apa memikirkan Palestina? Persoalan di negeri sendiri menjulang!” Mereka bersungut-sungut tak suka Membatu, tak jarang terpengaruh menuduh pejuang kemerdekaan Palestina yang membela tanah air mereka sendiri sebagai teroris!
Duhai, maka kukatakan pada mereka: Tanpa abai pada semua persoalan di negeri ini Atas nama kemanusiaan: menyala-lah! Kita tak bisa hanya diam menyaksi pagelaran mahanazi sambil mengunyah menu empat sehat lima sempurna dan bercanda di ruang keluarga kita tak bisa sekadar menampung pembantaianpembantaian itu dalam batin atau pura-pura tak peduli Seorang teman Turki berkata: mereka yang membatasi ruang kemanusiaan dengan batas-batas negara sesungguhnya belum mengerti makna kemanusiaan
Hai Amr Moussa tanyakan pada Liga Arab belum tibakah masanya bagi kalian bersatu, membuka hati, berani berhenti mengamini nafsu Amerika yang seharusnya kita taruh di bawah sepatu?
Hai Ban Ki Moon, apakah Perserikatan Bangsa Bangsa itu nyata? Sebab tak pernah kami dengar PBB mengutuk dan memberi sanksi pada mahanazi teroris zionis Israel yang pongah melucuti kemanusiaan dan keberadaban dari wajah dan hati dunia Apakah kalian, apakah kita tak malu Pada para syuhada flotilla, Rachel Corrie, Yoyoh Yusroh dan George Galloway?
Karena sesungguhnya kita bisa melakukan sesuatu: menyebarkan tragedi keji ini pada hatihati yang bersih, memberi meski sedikit apa yang kita punya dan mendoakan Palestina
Apakah sampai padamu, berita tentang mahanazi itu? Tentang Palestina yang bersemayam kokoh di hati mereka yang diberi kurnia?
Seperti cinta yang tak bisa kau hapus dari penglihatan dan ingatan, airmata, darah, dan denyut nadi manusia : Lawan Mahanazi!
Lihat video pembacaan puisi oleh Bunda Helvy dan Rahmi Yulia, 17 Maret 2012 lalu, disini.
Sampai, berita tentang Mahanazi sampai pada kami disini dan seberat apapun yang kami hadapi disini, tidak ada bandingannya dengan perjuangan Palestina.
Palestina, palestina, palestina.. Di dunia ini, tempat semua manusia dilahirkan, adakah yang berharap kelak akan menjadi orang jahat? Adakah yang merencanakan kelak akan menjadi orang yang menyusahkan orang lain saat baru dilahirkan? Tentu tidak! Karena Allah memberikan fitrah suci pada setiap bayi yang baru lahir Karena Allah memberikan celupan warnaNya sebelum siapapun memberikan warna pada bayi yang baru lahir
Maka, tak salah jika doa yang banyak terucap pada setiap insan yang lahir adalah, agar kelak ia menjadi anak yang shalih/shalihah. Shalihah, maknanya sangat dalam bukan? Baik, walau hanya baik itu lebih dari apapun. Sebab nyatanya tak selalu mudah menjadi orang baik di setiap kesempatan hidup yang Allah beri. Betapa banyak orang yang memilih menjadi jahat untuk kepentingannya, tanpa sadar bahwa baik itu melebihi apapun, karena surga di akhirat yang kita cari.
Berbuat baiklah dan itu akan kembali pada dirimu sendiri, begitu kata sebuah ayat dalam Al-Qur'an. Berbuat baiklah, walau sulit, karena surga membutuhkan perjuangan untuk dicapai.
Yakinlah, sebenarnya semua orang itu pada hakikatnya baik, karena saat dilahirkan tak ada yang pernah ingin menjadi buruk, karena saat dilahirkan banyak sekali orang yang mendoakan kita menjadi shalih/shalihah.
Saat ini, ketika telah dewasa, kunci itu ada di tangan kita, akankah kita terus dan tetap menjadi shalih/shalihah sesuai harapan orang tua saat melahirkan kita? Akankah kita tetap menjadi hamba yang pekat dengan celupan warnaNya saat baru dilahirkan?
shalih shalihah shalih shalihah shalih shalihah!
shalih dan shalihah tak hanya membahagiakan orang tua di dunia, tapi juga dapat menjadi amal jariyah hingga akhir masa.
*let me, Allah*
Nahnu du'at qabla kulli syai'in
Plasma, tertanggal 4-5 Juli 2005 Kalimat itu mulai masuk ke dalam diri, menjadi kalimat kunci dalam sebuah pelatihan dari Rohis28. Plasma, salah satu momen titik tolak yang tanpa disadari telah menjadi jalan pembuka bagi lintasan selanjutnya, lintasan yang menentukan banyak jalan hidup saya saat ini. This Path: mostly part of life!
Kita adalah da'i sebelum segala sesuatu ya, sebelum kita menjadi apapun..
Merasa, 7 tahun ini belum menjadi apa-apa, karena sepertinya perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Dulu merasa semua ini simple, tapi tiba-tiba saja menjadi rumit. Dulu merasa semua ini tak terikat oleh banyak hal, tapi ternyata ini menjadi titik pengait semua hal Dulu merasa semua ini pengaruhnya sedikit saja, tapi semua yang terjadi saat ini ternyata akibat darinya.
Nahnu du'at qabla kulli syai'in, Setiap hembusan nafas untuk da'wah. T.T
Da'wah, jika dulu tak pernah mengenalmu, mungkin saat ini aku tak akan berada pada posisi ini.
Ya Muqallibal qulub, tsabit qulubanaa 'alaa diinik Ya Muqallibal qulub, tsabit qulubanaa 'alaa tha'atik
This path may be difficult, but the final destination is certain  | Path [2] | Feb 28, '12 6:22 PM for everyone |
Seperti cerita sebelumnya di Path [1], sekarang saya jadi Full Teaching Assistant (TA) di Fakultas tempat saya belajar. Jam Kerja 40 jam per pekan. Nah tapi dari 40 jam itu, cuma 30 jam tanggung jawab kita untuk mengerjakan tugas sebagai asdos, 10 jam lagi free untuk kita melakukan kegiatan akademis lainnya, seperti bikin paper, belajar toefl, atau persiapan S2.
Overall, saya bersyukur sekali dapat kepercayaan ini dan proses penemuan path ini juga salah satunya dari amanah ini. Kerjaannya dilakukan sambil belajar, waktu fleksibel yang penting memenuhi kuota, dan alhamdulillah sejauh ini tertangani dengan baik artinya tidak full load sampe bawa lemburan ke rumah. Bahkan nyaris tak pernah buka laptop lagi di rumah saat malam hari.
Tentang 30 jam yang wajib jadi TA, dipenuhi dengan jadi 2 koordinator mata kuliah, rada ribet karena jadi koordinator dua2nya, banyak bantu persiapan dan bersentuhan dengan dosen tapi satu hal, jadi minim ngajar atau interaksi sama mahasiswa karena koordinator tak pegang kelas.. Ini satu hal yang agak kehilangan, tapi yaa, koordinator punya tugas sendiri..
Bahkan tugas koordinator di 2 mata kuliah itu juga berbeda, tapi unik. Di satu kuliah saya bener-bener full controll of all dan di satu lagi semi controll. Karakter tim asdosnya juga unik, yang satu terdiri dari berbagai angkatan bahkan jenjang kuliah (ada mahasiswa S1, S2, S3, dan lulusan S1) dan yang satu lagi lebih seragam, semua mahasiswa, kebanyakan S1.
Yang sama dari keduanya, tugas saya membuat kunci jawaban dan penilaian. Saat buat kunci jawaban itu rasanya gimana gitu, seakan lebih bahagia kalau dapat jawaban terus diajarin ke mahasiswa. Kunci jawaban yang saya bikin dikasihnya ke asdos buat standar penilaian mereka.
Jadi-jadi, selama jadi koordinator, tak ada lagi kegiatan periksa Tugas atau PR mahasiswa, tak ada lagi ngajarin mahasiswa di depan kelas. Tapiiii bisa-bisa aja padahal kalau bantu asdos di kelas. Bisa-bisa, cuma memang masih agak penyesuaian di 2 pekan pertama kemarin.
Sebagai TA ini juga dituntut punya rasa tanggung jawab yang tinggi, karena kita tak pernah dicek betul2 apakah sudah memenuhi 30 jam per pekan, tidak diawasi betul datang dan pulang jam berapa, tapi kejujuran itu ada di tangan kita. So, semakin banyak tugas semakin baik harusnyaa yaaa..
*Mari kita Semangaaat! untuk menjadi amanah!
Salah satu amal jariyah adalah ilmu yang bermanfaat :)
Bahwa iman maupun ukhuwah bukanlah hal yang semula jadi dan bisa muncul sendiri. Hubungan antara keduanya juga bukanlah kaidah sebab akibat. Keduanya adalah Pemahaman sekaligus Keterampilan. Keduanya perlu ikhtiar dan kerja-kerja. Keduanya dihadirkan dalam diri dengan upaya. Kita harus mempelajari ilmunya, memahami makna-makna, memperhatikan kaidahnya, melatih dan mengamalkannya di alam pergaulan.
(Salim A Fillah)
Sebab ketika Allah mempersaudarakan orang-orang beriman, Ia hanya ingin mengatakan bahwa komunitas sosial kita harus diikat dengan cinta yang lahir dari Iman. Hanya dengan begitu kita bisa menemukan kekuatan perekat yang abadi, tembus masa dan ruang, dan bebas dari berbagai perubahan situasi.
(Anis Matta) Waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar, tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. (K.H Rahmat Abdullah)
Iya, padahal nikmat dariNya mewarnai sebagian besar hari-hari kita padahal kasih sayangNya pada kita melebihi apapun selagi kita tak menduakanNya..
Setiap hari adalah belajar belajar untuk lebih mendekatkan diri padaNya karena yang kita cari tentunya syurga..
Setiap hari adalah belajar dan setiap proses belajar ada ujian agar kita naik ke tangga yang lebih tinggi..
Allah, selama ini aku belajar atau menghadapi ujian? Jika memang selama ini adalah belajar, semoga akan ada hasil baik yang dipetik Jika memang selama ini adalah ujian, semoga nanti itu adalah solusi dari ujian tersebut..
Ujian atau Belajar? di keduanya tetap harus diberikan usaha terbaik. Aaaaaa, karena yang Allah nilai itu prosesnya, prosesnya!
Allah yang Maha Baik, semoga segala dinamika yang telah terjadi duapuluhduatahun ini berakhir baik ..
I was a foolish little child Crazy things I used to do And all the pain I put you through Mama now I'm here for you
For all the times I made you cry The days I told you lies Now it's time for you to rise For all the things you sacrificed
* Oooh If I could turn back time rewind If I could make it undone I swear that I would I would make it up to you
** Mom I'm all grown up now I'ts a brand new day I'd like to put a smile on your face everyday
You know you are the number one for me You know you are the number one for me You know you are the number one for me Oh oh number one for me
Now I finally understand That famous line About the day I'd face in time Coz now I have a child of mine
Even though I was so bad I've learnt so much from you Now I'm trying to do it too Love my kids the way you do
Back to (*) (**)
You know you are the number one for me You know you are the number one for me You know you are the number one for me Oh oh number one for me
There is no one in this world That can take your place Oooh I'm sorry for ever taken you for granted
I will use every chance I get To make you smile Whenever I'm around you
Now I will to try to love you Like you love me Only God knows how much you mean to me 
Back to (*) (**)
The number one for me The number one for me The number one for me
(Number One For Me - Maher Zein- )
Untuk Ibu yang baik, Saya sedang merasa tak mampu berbuat apa-apa, karena Ibu di depan saya selalu baik-baik saja, tak pernah mengeluh, tak pernah menceritakan masalah apapun, walau terkadang saya tahu ada banyak hal yang menggelayuti pikirannya. Untuk Ibu yang baik, yang tak pernah memberatkan saya, bahkan selalu meringankan beban-beban saya, untuk Ibu yang baik, yang selalu membantu kesulitan orang lain, semoga Allah memberi sebaik2 bantuan saat Ibu kesulitan saat tangan putrimu tak mampu berbuat apa-apa untukmu..
Jika Aku tidak yakin bahwa, Kaulah Pelindung terbaik untuknya, maka aku ragu bahwa ia baik-baik saja disana. (Tasaro)
Ya, Allah ya, Engkau sebaik-baik Penjaga.. Jaga Ibu di manapun ia berada, Ya Allah.. Ibu baik, jadi insyaAllah dapat kebaikan juga di hari-harinya.. Aamiin.. :")
ingin berbisik pada beliau, "Bu, maaf untuk semua salah yang tak terhitung, apa yang bisa aku lakukan untuk bahagiakanmu?" *banjiiiir T.T* Suatu hari, demikian dikisahkan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Abu Bakar berjalan mendatangi majelis Rasulullah. Dia tampak menjinjing kainnya, terlunjak jalannya, tertampak lututnya, dan gemetar tubuhnya. "Sahabat kalian ini," sabda Sang Nabi pada sahabat yang sedang duduk begitu melihat Abu Bakar datang, "sedang kesal hati. Maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya."
Abu Bakar bersimpuh lalu menggenggam tangan Sang Nabi. Ditatapnya mata suci itu dalam-dalam. "Antara aku dan putra Al-Khattab," lirihnya, "ada kesalahpahaman. Lalu dia marah dan menutup pintu rumah. Aku merasa menyesal. Maka kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulang kali untuk memohon maafnya. Tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan."
Tepat ketika Abu Bakar selesai berkisah, 'Umar ibn Al-Khaththab datang dengan resah. "Sungguh aku diutus pada kalian," Sang Nabi bersabda menghardik, "Lalu kalian berkata: 'Engkau Dusta!' Wajah beliau tampak memerah, campuran antara murka dan rasa malunya yang lebih dalam dibanding gadis dalam pingitan. "Hanya Abu Bakar seorang", sambung beliau, "Yang langsung membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?"
'Umar berlinang, beristighfar, dan berjalan simpuh mendekat. Tetapi tangis Abu Bakar lebih keras, derai air matanya bagai kaca jendela lepas. "Tidak, ya Rasulullah. Tidak. Ini bukan salahnya," serunya terpatah-patah isak. "Demi Allah akulah memang yang keterlaluan." Lalu dia memeluk 'Umar, menenangkan bahu yang terguncang. Mereka menyatukan rasa dalam dekapan ukhuwah, menyembuhkan luka-luka.
(Dalam Dekapan Ukhuwah, hal 388-389)
*Sudah pernah baca kisah tentang ini dulu dulu, tetapi saat baca malam ini dari buku ini membuat basah mata ini. Abu Bakar, Abu Bakar, kagum sekali pada beliau.. Kisah sebelumnya saat Beliau melindungi Rasul di Gua Tsur, luar biasa.. T.T Dan Umar, sekeras-kerasnya tetap punya hati yang lembut sehingga mampu menerima setiap kata Rasulullah dengan hatinya.  | Path [1] | Jan 16, '12 3:02 AM for everyone |
Belakangan ini ada rasa yang meletup-letup, saat menemukan sesuatu yang baru dan ternyata mengembalikan bagian diri yang selama ini tercecer. Ini tahun baru, masih inget bahwa tahun lalu saya merencanakan bahwa di tahun 2011 ada 3 fokus besar, Tugas Akhir, SALAM, dan RQ. Yaa, 2011 berakhir, alhamdulillah tugas akhir alias skripsi sudah selesai paruh tahun lalu, sudah lulus kuliah, dan SALAM berjalan hingga akhir kepengurusan dan 6 hari lagi akan resmi serah terima amanah. RQ, nah ini yang mengenaskan, gagal di tengah jalan karena kalah dengan 2 hal yang lain.
Jadi, jadi PR untuk 2012 melanjutkan hal yang belum tercapai selanjutnya, dan merancang jalan hidup baru. Ini yang cukup sulit, menentukan kemana path hidup selanjutnya, tetapi akhirnya setelah perjalanan panjang akhirnya mengerucut juga.
Ceritanya, sekitar sebulan lalu saya bergabung dengan salah satu Lab Riset di Fasilkom, menjadi asisten yang membantu beberapa kegiatan di sana. Kebanyakan masih dalam tataran administratif, tapi sedikit banyak dari Lab ini saya mendapat banyak hal baru, termasuk motivasi, arahan, atau tawaran dari Bapak Dosen.
Perbincangan sebulanan yang lalu antara saya dan Bapak Dosen, "Rencana kamu setelah ini gimana?" "Yang jelas sampai Januari tetap di kampus Pak, karena masih ada amanah di SALAM" "Sekarang sibuk apa saja?" "Di SALAM, asdos satu mata kuliah, terus ngajar di bimbel Pak" "Selanjutnya mau kerja di kantor atau gimana?" "Emm belum tau sih Pak, tapi jangka panjangnya saya lebih tertarik di dunia akademis" "Jadi rencananya gimana?" "Belum tau Pak, ceritanya ini bulan-bulan peralihan sebelum saya memutuskan target selanjutnya"
Dalam hati, jleb padahal. Belum punya rencana, belum punya rencana, belum punya rencana, mau jadi apaaaaaa? Yang masih dipikiran, selesaikan SALAM saja, setelah itu baru cari kerja. Sejak perbincangan itu jadi mulai berpikir jauh ke depan, selama ini saya seperti membiarkan lingkungan luar mengatur hidup saya, karena memang saya masih terlibat dengan banyak hal. Termasuk di SALAM tahun lalu, itu pun tak masuk plan hidup, tiba-tiba saja datang. Termasuk waktu ikut mapres itu juga belum jadi plan. Termasuk waktu magang, freelance atau ikut2 project, itu semua karena ada tawaran dari luar. Jadi semacam let it flow saja, frame besarnya sebagai mahasiswa ya kuliah.
Sekarang sudah lulus, dan pekan ini resmi tidak ada ada organisasi di kampus lagi. Jadi kalau sebelumnya agenda SALAM bener2 memadati hari-hari, jadi kegiatan utama setelah lulus, pekan depan tidak lagi. Jadi kalau selama ini agenda-agenda diri juga masih terikat sama banyak hal lain, sekarang tidak lagi. Jadi, selanjutnya akan banyak penentuan jalan hidup yang ditentukan oleh diri sendiri! Yaaap!
Akhirnya, setelah bingung-bingung mau kemana langkah selanjutnya, datang lah satu dua tiga petunjuk, mulai dari menginap bareng kakak2 fasilkom 2005 dan 2006, bincang sama ibu dosen tentang pasca kampus, bincang sama temen yang tadinya kerja di kantor terus balik lagi di kampus, dan beberapa hal lain yang membuat saya memutuskan, I will stay on Campus, in academic path!
Ya ya alhamdulillah ada lowongan Full Teaching Assistant di kampus, dengan jam kerja 40 jam per minggu. Akhirnya saya ambil tawaran itu dan diterima, yang harapannya bisa jadi langkah sebelum ambil S2 atau terus berkarya di dunia akademis.
Ceritanya dulu udah ditawarin beasiswa S2 di Fasilkom untuk semester ini, tapi karena taunya H-2 deadline jadinya urung ikutan. Akhirnya semester ini jadi Full Teaching Assistant.
Yang saya pikir juga kalau di kampus perjalanannya lebih nyaman dibanding harus kerja di bilangan pusat Jakarta sana yang macetnya luar biasa, jadi perjalanannya hemat sekali. Berangkat tidak perlu pagi2 buta, pulangnya juga tidak perlu malam2 buta. Dan satu hal lagi, kalau di kampus masih bisa lihat adik2 tumbuh, masih bisa denger mereka sharing kondisinya, dan bisa bantu apa-apa jika dibutuhkan. Terus kalau nanti udah berkeluarga, bisa punya porsi lebih di rumah karena perjalanan kerja yang relatif singkat.
Kata Ibu, Pengajar itu, baik guru atau dosen, memang pendapatannya (baca gajinya) tak seberapa, tapi pahala amal jariyah mengalir terus sampai ke surga!
Yap, ilmu yang bermanfaat semoga bisa memberikan ilmu yang bermanfaat dengan terus mengajar. Dan tentunya sambil belajar karena terasa sekali masih banyaaak hal yang harus saya pelajari!
Semangaaat! "Mungkin saat ini kita sedang menahan beban, di tempat-tempat pencarian kita akan ilmu, rezeki, dan bermacam pengabdian, barangkali kita sedang menemui masalah dan masalah. Semua terasa berat menimpa. Mulanya bisa biasa saja. Seiring waktu lalu kita merasa lelah dan menyerah. Ini adalah kesalahan pertama dari cara kita melihat diri kita sendiri: menyerah atas kumpulan masalah." "Selain kumpulan masalah, hidup adalah arena persaingan. Kalaulah tak ada persaingan, kita tak tau mana yang buruk dan mana yang baik. Kompetisi adalah tarikan rasa takut dan rindu, kepada sesuatu yang kita inginkan. Dan disanalah kita punya jebakan untuk salah menghargai diri sendiri. Hari ini sebagaian kita mungkin tengah menyerah kalah. Padahal kali pertama kita memutuskan untuk memilih -tentang apa saja- di saat itu kita dengan sekuat kata kita bicara tentang kemauan untuk gigih, sungguh2, dan bersemangat untuk menang. Jenis kedua dari kesalahan cara kita menimbang diri sendiri: mengalah dalam kompetisi." "Selanjutnya, jenis ketiga dari cara kita yang keliru dalam menimbang kadar diri: merasa cukup dengan capaian diri saat ini. Merasa cukup, bila itu terkait dengan perasaan menerima atas apa yang diberikan Allah merupakan sikap luhur. Sebab ini tentang rasa syukur dan sikap tahu diri. Merasa cukup yang tidak baik adalah apa yang terkait keengganan untuk memacu lebih, dan lebih, dari apa-apa yang kita miliki. Ini tentang kebisaan dan kemampuan kita yang belum sampai ke titik tertingginya. Sebab kita tidak memacunya, sebab kita memilih capaian sekedarnya." Mungkin kita tak sekedar ini, hanya salah menghargai diri
# Mungkin bukan soal pengetahuan, tapi cara kita mensinergiskan perilaku dan ucapan # Mungkin bukan soal kerja keras, tapi cara kita bertahan # Mungkin bukan soal kemampuan memimpin, tapi cara kita memaknai tanggung jawab # Mungkin bukan soal keimanan, tapi cara kita bertoleransi dan menghargai # Mungkin bukan soal banyaknya karunia, tapi cara kita mensyukuri
(Dikutip dari Tarbawi, edisi 265) LDK SALAM UI Menggali Potensi Muslimah*
rohis
Oleh Indah Wulandari
Lembaga Dakwah Kampus Nuansa Islam Universitas Indonesia (LDK SALAM UI) meneropong potensi Muslimah lewat acara Cerita Perempuan Indonesia (Cermin). Selama dua pekan berturut-turut, tampil pembicara yang menggugah semangat untuk menghargai peran perempuan dalam pembangunan.
“Rangkaian acara ini dimaksudkan agar kita lebih paham tentang perempuan. Karena, perempuan begitu istimewa hingga negara pun bertiangkan perempuan,” ujar Humas LDK SALAM UI Nurul Iva Faturahmi. Keistimewaan itu pun tampak dalam temanya, yakni “The Power of Girls: Beauty Inside, Beauty Outside!”
Pada hari perdana penyelenggaraan kegiatan, Sabtu (19/11) lalu, tampil penulis buku Agar Bidadari Cemburu Padamu, Salim A Fillah. Bersama mahasiswi Fakultas Hukum UI yang juga seorang hafizah, Scientia Afifah Taibah, Salim menyemangati para Muslimah muda dalam talkshow bertema “Be a Great Muslimah”.
Acara yang berlangsung di Gedung M Lantai 3 FISIP UI ini amat komunikatif karena peserta banyak bertanya. Acara bincang-bincang ini berlanjut dengan bahasan “Be a Great Wife”. Penulis buku Bagaimana Aku Bertahan dan Menjadi Istri Survive, Pipit Senja, berbagi pengalaman membina keluarga di tengah deraan sakit. Tak ketinggalan Isa Alamsyah, penulis buku berjudul No Excuse!, yang juga suami dari penulis ternama Asma Nadia, berbagi tips tentang membina keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
Tema menarik lainnya juga ditemui dalam talkshow bertema “Be a Great Mother”, Ahad (20/11). Pendiri Pondok Pesantren Baitul Anshar yang juga berperan sebagai orang tua tunggal, Ummi Ihsan, mengungkapkan keinginannya mendidik anak yang saleh. Sedangkan dari sisi generasi muda diwakili Ismail Ghulam Halim (putra dari Ustazah Wirianingsih).
Sesi kedua berlanjut dengan training motivasi “The Power of Girls: Beauty Inside, Beauty Outside!” oleh Rumah Motivasi. “Kita bisa menemukan inspirasi mengenai perempuanperempuan pengukir sejarah sepanjang acara ini,” kata Nurul. Panitia pun berharap, melalui acara ini wawasan para peserta yang notabene merupakan para Muslimah muda akan bertambah. Motivasi mereka pun akan meningkat. ed: wachidah handasah
*Tulisan ini dimuat di Harian Republika, Kolom Dialog Jum'at, tanggal 9 Desember 2011.
(Berdasarkan pesan dari Humas, maka tulisan ini didokumentasikan pula dalam Blog agar mudah diakses di kemudian hari) Ini tentang jejak ke dua, dalam perjalanan inspirasi, dari sebuah kata inspirasi harimu yang telah tercetus sebelumnya. Ya, masih tentang SALAM UI, rumah yang menaungi hari-hari saya secara umum.
Pada jejak sebelumnya telah muncul ide-ide awal tentang kelanjutan SALAM di periode ke 14, ya Inspirasi Harimu!. Visi yang dibawa oleh Ketua SALAM tahun ini adalah “Menjadikan SALAM UI sebagai perwajahan Islam kampus yang mampu memberikan inspirasi keislaman menuju Indonesia madani” dan Misi nya adalah BUMI (Bersama Ukhuwah Merangkul Intelektualitas). Tenang-tenang saya tak akan jabarkan visi dan misinya kok, ini cuma gambaran awal saja, supaya nyambung dengan kisah selanjutnya.. 
Dalam jejak kedua kali ini, saya akan menceritakan tentang Buku Saku SALAM UI, yang diperuntukan untuk seluruh pengurus SALAM, ini dia bentuknya.
Ini buku sebenarnya biasa aja, bahkan sekarang di detik2 menuju akhir keberadaannya sudah terlupakan. Padahal perjuangan dan filosofi dalam pembuatannya luar biasa.. Buku ini termasuk jejak awwalun dalam SALAM tahun ini..
Jadi gini, tentang SALAM yang cakupannya luas banget itu (baca, pengurusnya banyak), kejadian yang saya alami di tingkat pertama adalah rasa kepemilikan yang sangat kurang terhadap SALAM. Staf memiliki rasa kepemilikan yang besar pada departemennya sendiri, tetapi tidak secara utuh terhadap SALAM. Hal ini juga terjadi pada organsisasi2 lain di kampus, dimana terasa sekali gap antar departemen atau bidang. Staf antar departemen tidak saling kenal, proker departemen lain juga tidak tahu, sehingga minim sekali infor yang mereka dapatkan tentang organisasi itu secara utuh.
Problem ini sempat dibahas di awal kepengurusan SALAM tahun ini, dan tentu bukan cuma dibahas tapi dicari solusinya.. Akhirnya jeng jeng jeng, muncullah dua solusi, bikin buku saku dan kepanitiaan bersama yang tidak oprec dari luar pengurus SALAM.. Nah tentang buku saku, ini unik banget ceritanya, berhubung di awal kepengurusan kita belum punya saldo keuangan sama sekali, jadi kita buat sehemat mungkin. Akhirnya biar hemat kita ngejilid sendiri tuh buku, sebanyak 250an buku. Jadi cuma dicetak kemudian kita yang susun dan jilid sendiri.
Isi dari buku saku tersebut, visi misi salam, struktur kepengurusan, mars salam, lembar biodata dan lembar poin inspirasi. Lembar biodata itu buat diisi sama temen2 pengurus lain, jadi masing2 pengurus punya biodata temennya, terus kalau lembar poin inspirasi untuk menaruh poin saat mereka datang ke acara salam. Tapi sayang disayang, sekarang semua itu tinggal mimpi dan cita, tanpa pelaksanaan yang konsisisten. Buku sakuuu, dimana keberadaanmu sekarang?
Tentang pembuatannya, ini luar biasa perjuangannya. Mulai dari nyetak di daerah kober, terus hasilnya tidak dipotong rata sama abangnya. Alhasil ukuran dari tiap bagian beda-beda. Terus diboyong lah itu tumpukan kertas ke tempat raker untuk dilembur dan dijadikan buku, ada sekitar 3 kardus tumpukan kertas.
Di malam hari, setelah raker, rakoor akhwat begadang untuk menuntaskan pembuatan buku. Demi penghematan, kita jilid sendiri. Malam itu sepertinya kami sudah beralih jadi tukang fotokopi. Ada beberapa pembagian kerja, motongin kertasnya supaya sama, menyusun tata urutannya, menghitung lembar tiap bagian (misal biodata 10 lembar, poin 5 lembar), dan yang tersulit adalah menggabungkannya jadi satu (menstreples). Karena lumayan tebal, jadi ini buku sedikit sulit distreples dan butuh tenaga ekstra.
(Hasil buku yang baru disusun, belum dipotong dan distreples)
Jadi malam itu, kerjaan kita, hitung2, potong2, susun, cekrek.. Untuk buku saku. Dan ternyata semalam tak cukup, ya iyalah 250an buku, dengan tumpukan kertas yang segambreng-gambreng. Di tambah ukurannya tak merata, jadilah berat kami menyusunnya. Bahkan ketika ditawarkan ke tempat fotokopi untuk memotongnya agar ukurannya sama, tidak ada yang mauuu, karena ini terlalu banyak dan berantakan saat dipotong di awal. Akhirnya lembur lah kitaa..
Buku penuh cinta itu jadi juga akhirnya, di sosker sempat dibagikan ke pengurus yang hadir. Bahkaan saat sosker beberapa akhwat tetap berjibaku dengan si buku, karena target semua staf harus dapat. Namun, apa daya, belum selesai juga teman2, lama sekaliiii, akhirnya buku2 yang belum dipotong rapi itu diberikan pada setiap kepala departemen untuk dirapikan masing2.
Mengingat buku itu hari ini, rasanya sayang seribu sayang, karena keberadaannya tidak diketahui lagi. Tapi setidaknya buku itu menjadi satu jejak, bahwa di awal dulu kami pernah mengusahakan adanya ikatan antara pengurus SALAM, bahwa di awal dulu kami pernah mengusahakan untuk meningkatkan kehadiran pengurus SALAM lewat poin inspirasi yang ditempel di buku..
Jika tahun ini kami baru mampu membuat sebuah buku dengan pelaksanaan yang kurang baik, semoga tahun depan ada hal yang lebih baik lagi. Yang membuat seluruh pengurus saling kenal, merasa dekat antar departemen, dan mencintai SALAM seutuhnya. Karena ya, SALAM milik kita bersama, kan?
Kita butuh tim perencana yang baik, tetapi tak hanya itu, kita butuh tim pelaksana yang baik. Karena setiap rencana yang baik tak akan menjadi baik tanpa pelaksanaan yang baik...
"Pada mulanya cinta adalah gagasan tentang bagaimana membahagiakan dan menumbuhkan orang lain. Selanjutnya cinta adalah kemauan baik yang menjembatani gagasan itu menuju alam kenyataan. Sisanya adalah kemampuan." (Anis Matta)
Membangun kemampuan untuk mencintai, begitu kata Anis Matta, mulai dari gagasan, kemamauan baik, dan baru dari kemampuan itu sendiri. Membangun kemampuan mencintai berarti membangun kemampuan produktif dalam diri kita. Ini kisah pertama dalam jejak inspirasi versi pribadi, seiring dengan countdown berakhirnya kebersamaan kami dalam sebuah wa dah, SALAM UI, lembaga dakwah kampus di Universitas Indonesia. Kira-kira setahun lalu, saya diminta bergabung dengannya. Tingkat pertama dulu sempat saya bergabung di SALAM UI, menjadi salah satu staf departemen yang mengurus isu palestina. Namun, setahun sebagai staf tidak menimbulkan cinta yang teramat padanya, karena tarikan fakultas jauh lebih besar untuk saya berkontribusi. Terk adang, tingkat kontribusi kita akan berpengaruh pada tingkat cinta kita pada sesuatu. Tingkat kedua dan ketiga, tak ada ruang untuk menjadi bagian dari SALAM UI, karena peran utama di fakultas tidak bisa ditinggalkan. Hingga akhirnya, tak pernah ada bayangan bahwa diri ini kelak akan kembali padanya, menjadi bagian penting darinya. SALAM, lima huruf itu akhirnya membawa saya pada p roses untuk membangun kemampuan mencintai. Bagaimana tidak, saat tak ada lagi prediksi untuk membersamainya, tiba-tiba datang amanah tanpa diminta. SALAM, akhirnya mengajarkan, bahwa kemampuan mencintai itu harus dibangun kuat-kuat. Kemampuan itu mengubah tak acuh menjadi peduli, mengubah hambar menjadi berasa, mengubah pasrah menjadi tekad, dan berhasil meluluhkan tetesan air di tengah bebatuan. Ini kisah tentang SALAM UI, di periode ke 14. Usianya belum 14 tahun sebenarnya, tetapi karena pernah ada pergantian masa yang singkat jadi satu tahun ia memiliki 2 periode. SALAM UI 14, membawa semangat melalui jargon "Inspirasi Harimu!" yang berawal dari Visi untuk memberikan inspirasi keislaman di kampus UI. Awal bulan Februari, akhirnya diputuskan bahwa jargon itu yang akan terus mengiringi SALAM UI tahun ini. SALAM UI 14: Inspirasi Harimu! 
(Logo SALAM UI 14)
Menginspirasi itu tak mudah, apalagi bilangannya hari. Konsekuensinya kita harus membawa inspirasi setiap hari. Begitu kata salah seorang tim perumus jargon. Hmm, diputar-putar, berbagai kata, sampai kita harus mengecek dengan bantuan google bahwa jargon yang kami pilih belum pernah dipakai sebelumnya. Ada usulan mengandung kata dekat, tetapi tak ditemui juga jargon yang tepat. Sejak awal saya lebih sreg dengan kata inspirasi itu, tetapi memang konsekuensi besar. Inspirasi. Dekat. Inspirasi. Dekat. Akhirnya syuro pun tak berhasil memutuskan apa-apa, hingga kami serahkan pada Ketua untuk memilih kalimat yang pas. Hingga akhirnya, Inspirasi Harimu menjadi pilihan kami.. Dan mulailah segala kegiatan mengandung kata inspirasi, mulai dari Sosialisasi Kerja (Sosker), Acara besar SALAM bertajuk Inspiration Days, Ramadhanmu Inspirasimu, PMB dengan Satu Langkah Sejuta Inspirasi, bahkan saat Idul Adha jualan hewan kurban pun berjudul Kambing Inspirasi. Ada lagi ebook Jilbabku, Inspirasiku hasil tulisan saat pembagian semarak ribuan jilbab.
"Jadi, satu langkah awalmu benar-benar menjadi penentu langkah-langkahmu selanjutnya"
Hmm, terlalu banyak kisah tentangmu SALAM. Saat ini, di penghujung, sudahkah SALAM UI menginspirasi? Itu menjadi evaluasi bersama tentunya, hingga berharap di hari-hari menuju akhir ini SALAM UI dapat mengoptimalkan perannya untuk terus menginspirasi. Tak terasa benar-benar sudah di penghujung, kira-kira setahun lalu saya masih bukan siapa-siapanya SALAM, hingga hari demi hari membuat saya terikat dengannya. Ya, satu dua langkah, akhirnya saya mencintainya dan ia menjadi bagian besar dalam hari-hari saya. Ia menjadi salah satu dari 3 bagian yang menjadi perhatian penting tahun ini. Dan kini, ia benar-benar di penghujung..
Maka, dalam hari-hari menuju gerbang perpisahan ini, akan sedikit saya ulas jejak-jejak perjalannya. Tak akan lengkap memang, bahkan akan banyak lubang dalam proses kilas baliknya. Tetapi, setidaknya ia akan terekam dalam sebuah jejak yang dapat kembali memunculkan memori di kemudian hari. Awalnya, mencintaimu butuh kemampuan dan ternyata di akhir melepasmu pun lebih membutuhkan kemampuan yang jauh lebih baik..
Untuk SALAM UI, yang berusaha terus menginspirasi! :)
#H-54
Pejuang itu tidak boleh kalah,kalah dengan dirinya sendiri kalah dengan kepentingan pribadi kalah dengan ambisi kalah dengan ketidakberdayaan kalah dengan perasaannya
Ia hanya boleh jatuh untuk bangun kembali Ia hanya boleh lelah untuk bekerja kembali Ia hanya boleh salah untuk jadi lebih baik
(Pesan singkat dari saudari seperjuangan, 21:18, 19 Oct 2011)
Mendapati pesan ini, rasanya ingin mention ke semua orang terdekat, plus mention diri sendiri tentunya..
Ya Allah, berikan semangat dan kekuatan terbaik, untuk kita semua yang berjuang agar tak kalah oleh keburukan apapun yang mengintai setiap kebaikan..
Wusssh, semangaaat semua!  Kalau saja Al-Qur'an punya rasa cemburu, ia mungkin iri dengan handphone yang setiap saat hampir selalu dalam genggaman begitu ada pesan langsung dilihat begitu ada telepon langsung diangkat
atau ia iri dengan twitter dan facebook yang notifikasinya mampu mengalihkan perhatian yang beritanya dilihat berkal-kali sehari yang kalimatnya dicermati bahkan dinanti
atau ia iri dengan teman sejenisnya, novel, majalah, buku-buku yang tebalnya berkali-lipat tapi mampu dilahap dengan singkat
Kalau saja Al-Qur'an punya rasa cemburu ia bisa saja marah dan memutuskan hubungan dengan pemiliknya karena mereka lalai, tak memprioritaskannya
tapi kawan, 'cemburu'nya Al-Qur'an itu unik, bukan sekedar cemburu karena egois tak diperhatikan ia tak sedih apalagi marah, ia tak berontak, apalagi merengek minta diperhatikan cukup baginya memberi kita pelajaran dengan membuat kita lupa padanya membuat bagian darinya yang telah melekat dalam ingatan meluap satu per satu
dan 'cemburu' itu lebih menyedihkan dibanding marahnya pihak lain yang cemburu karena saat pihak lain cemburu, bisa jadi mereka hanya marah dan siap membaik saat kita kembali tapi saat Al-Qur'an 'cemburu', ia akan meluapkan ingatan kita tentangnya yang membuat kita tertatih, saat ingin kembali padaNya
Ia terlalu spesial, yah, Al-Qur'an terlalu spesial untuk dibandingkan dengan apapun, terlalu mahal untuk disejajarkan dengan apapun maka tak ada kamus kata cemburu dalam hidupnya
"Bukan ustadz atau ustadzah yang mengeliminasi muridnya dalam proses berdekatan dengan Al-Qur'an, tapi Al-Qur'an itu sendiri yang akan melakukannya" (RQ)
:listening Al-Baqarah miss it so much T.T 23.09,23:09 "Sarjana adalah simbol siap sedia, manusia muda yang turun ke medan laga. Amalkan segenap ilmunya, agar kelak di depan Sang Pencipta ada senungging senyum lega. Sarjana, semoga Allah muliakan hidupmu dengan keberkahanNya." *
 Tugas Akhir bersama Toga, sebelum wisuda.
Alhamdulillah, Allahu Akbar, Akhirnya resmi lulus juga.. 
Tak tanggung-tanggung, 3 hari berturut-turut merasakan upacara wisuda sarjana. Kamis, 15 September 2011, Geladiresik Wisuda Universitas.. (namanya aja GR, tapi berasa wisuda beneran, karena memang di momen ini beneran ada formalitas ucapan selamat per orang dari Pak Rektor) Jum'at, 16 September 2011, Wisuda Universitas. Penuhnya balairung dengan ribuan wisudawan, orang tua, dan mahasiswa baru. Paling riweuh dan ribet hari itu. Sabtu, 17 September 2011, Wisuda Fakultas, di Graha Sabha Widya. Lebih spesial, karena wisudawan lebih sedikit dan acara yang lebih fokus.
Fiiuuh, merasa di dunia lain 3 hari itu, tak ada rapat, tak ada berdiam diri di MUI, tak ada pembahasan program kerja, yang ada hanya upacara-upacara, antrian-antrian dengan ketergesaan.. Graduation Days, 3 days for ceremony, feel waste time so much!
But, finally, S.Kom, Sarjana Komputer. Alhamdulillah. Diantara semua case yang ada dalam 3 hari itu, yang paling spesial adalah kebersamaan dengan dua insan yang amat berarti dalam hidup saya, Bapak dan Ibu. Keduanya hadir dalam wisuda Universitas dan wisuda Fakultas.
Setiap jejak yang diukir dalam 4 tahun belakangan, memang untuk kalian, Bapak dan Ibu. Alhamdulillah, Bapak Ibu dapat menyaksikan kelulusan puteri semata wayang ini, dengan sedikit 'bingkisan' yang alhamdulillah masih dapat diberikan, walau 'bingkisan' itu tak semegah dahulu. Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan diri ini, kebanggaan itu masih dapat hadir di benak Bapak dan Ibu.
Bahagia adalah mendengar ibu cerita, air mata haru tak henti mengalir dari keduanya saat pidato dari Rektor mengingatkan tentang kisah anak yang dulu masih ditimang dan sekarang telah menyelesaikan studi sarjana. Ya, Bapak Ibu, ini puterimu yang dahulu. *tanpa mereka tahu, di tengah ribuan mahasiswa, puterinya juga menangis haru, mengingat setiap jejak perjalanan yang telah dilalui. Haru saat harus melambaikan tangan tanda terimakasih pada kedua orang tua, jika mampu, ingin bersimpuh di hadapan keduanya saat itu juga. Terimakasih Bapak Ibu,
Terimakasih, untuk setiap doa dan ridho yang diberikan.
Happy Family, 3 in 1 ^^
Tak lupa, di 3 hari wisuda ini, terimakasih juga untuk:
pertama adik-adik tersayang SALAM 14 yang dateng ke balairung, bahkan ada yang hadir 2 hari berturut-turut, rela menanti berlama-lama untuk kakak-kakaknya, berputar-putar walau lapar :). Jazakumullah Umi, Rani, Ami, Ney, Anes, Amani, Noti, Ria, Ilma, Dyfi, Dewi, Titin, Tiwi, Muth. Terimakasih juga untuk selembar kartu ucapan manisnya.. :)
kedua, untuk para pemberi bunga, orang pertama, yang ternyata masih jadi juara ^^, walau hanya sebentar hadir, terimakasih telah menyempatkan di tengah sibukmu, Ifah. jazakillah for the first white flower.. :) adik-adik SALAM, Ilma untuk mawar merah dan trio mentari, dyfi-dewi-titin, untuk mawar merah mudanya. dan Ibu, yang ternyata ikutan beli bunga waktu menunggu di mobil sekian lama karena anaknya masih foto-foto dengan teman sejawat. You are still the best, mom.
Bunga-bunga tanda cinta :)
ketiga, untuk pemberi boneka lucu ini.. :) terimakasih Melati, yang ceritanya mewakili Thursina.. makasih udah rela2 dateng ke wisuda fakultas, karena ternyata ga berhasil ketemu di wisuda UI. Sayang Melati, sayang Thursina.. Walau edisi foto bareng Thursina ga kesampean, tetap terkenang di hati lah ya.. :)
Boneka, Thursina.. *belum punya nama
dan hadiah ini, untuk Bapak Ibu dan semuanya yang telah begitu baik..
terakhiiirrr terimakasih, untuk semua semua semua, yang telah mendukung dan membantu hingga kelulusan ini dapat diraih. terimakasih, terimakasih, terimakasiiih, atas doa dan bantuannya, baik secara langsung atau tidak langsung.
teriring doa, agar teman-teman terbaik saya, dapat menyusul segera dan diberikan kemudahan juga untuk melewatinya.
Setelah kelulusan ini, hari-hari tak akan berubah, belum akan ada sesi kantor mengkantor, yang akan ada masih sesi kampus mengkampus, ngajar mengajar, tentunya dengan rumah kedua, sekret SALAM UI.
masih ada 2 PR menanti tahun ini, semoga berakhir dengan baik seperti 1 tugas yang telah lewat ini..
*kalimat ucapan yang tertera dalam boneka Thursina.. "Smsnya ndak usah dibales deh" "Pokoknya hari ini gak mau ktemu dosen" "Biarin deh hapenya mati" "Tugas bagian aku yang ini gak usah dikerjain sekarang deh, kapan-kapan aja"
kalimat pertama seri apatis, kaliamat kedua seri egois, kalimat ketiga seri pleghmatis, kalimat keempat, bisa jadi campuran ketiganya...
Manusia, sebagai makhluk sosial jelas tak bisa dipisahkan dari orang lain, tak bisa hidup sendiri. *pelajaran zaman sekolah dulu. Tapi ya, memang begitu, itu sejatinya kita memang hidup berdampingan dengan orang lain, seegois apapun kita. Walau di sisi lain, manusia juga berperan sebagai makhluk individu.
Egois mau menang sendiri, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa egoisnya kita akan berdampak pada orang lain. Apatis, tak peduli, tak ya tak pedulinya akan berdampak pada orang lain. Pleghmatis, menerima apa adanya juga boleh, tapi menerima pun bukan seperti zaman siti nurbaya yang diam artinya iya.
Sekuat apapun kita menutup diri dan beranggapan semua hanya akan berdampak pada diri kita, kita tak dapat berlepas diri bahwa kita tidak akan membawa dampak untuk orang lain. Ya karena kita hidup berdampingan dengan orang lain, bukan di goa sendirian.
Hidup ini bagai bola raksasa dengan jutaan warna kata Tere Liye, saling terkait, melilit dan melingkar-lingkar. Hingga menunjukkan benang kita akan terkait dengan yang lain dan tak tahu kapan akan kembali pada diri kita sendiri.
Setiap orang punya hak, untuk mengambil keputusan atas hidupnya, tapi sejatinya ia juga harusnya memiliki rasa bahwa setiap keputusan yang diambil akan berdampak pada orang lain. BERDAMPAK, setidak peduli apapun kita. Miris adalah saat dampak buruk dirasakan oleh orang lain, sementara penyebabnya merasa baik-baik saja. Merasa tidak ada yang salah, padahal telah penyebab semuanya. Semakin miris, saat yang khawatir adalah pihak-pihak yang terkena dampak, bukan pelaku.
Pleghmatis boleh, apatis boleh, mau egois juga boleh, tapi tolong berpikir seribu kali, bahkan sejuta kali sebelumnya bersikap semua itu. Berpikir banyak2, apakah sikap kita hanya berdampak pada diri kita, satu orang, dua orang, sepuluh, seratus, atau nyatanya pada ribuan orang. Jika kita berpikir bahwa tidak pedulinya kita, berkutatnya pada diri sendiri, akan berpengaruh (tidak atau kurang baik) pada orang lain, insyaAllah kita akan sedikit memiliki rasa peduli.
sedikit, walau hanya sekedar memberi sinyal, tanda, atau pesan bahwa kita peduli. bahkan berkata kita tidak peduli pun lebih baik, dibanding diam.
ayo smua, sebelum bertindak atau memilih tidak bertindak, sebelum keluar kandang atau memilih menetap saja di kandang sendirian, sebelum berkata atau memilih diam, pikirkan ada orang lain yang akan selalu terkait dengan kita ada orang yang lain yang akan selalu terkena dampak dari setiap laku kita.
yap begitu simpelnya makhluk sosial, walau praktiknya tidak selalu simpel, karena manusia UNIK.
selamat menjadi makhluk sosial, tak hanya di situs jejaring sosial.. :)
ayo dipikir, kita telah memberi dampak apa pada orang lain hari ini? Syawal, 1432 H -----------------------------------
Pagi hari, saya dapati pesan singkat dari seseorang yang membuat saya speechless, tak mampu berkata-kata melihat azzam tekadnya. Ah iya, itu membuat simpul senyum tersendiri di wajah ini, walau kebaikan itu bukan untuk saya, walau pesan singkat itu tak berdampak untuk saya, tapi untuknya, seseorang yang telah menjadi bagian hidup saya. *sms outliers di luar sms idul fitri..
-----------------------------------
Tak seperti eid sebelumnya, tahun ini sedikit betah berlama-lama dirumah. Mengunjungi rumah kedua itu selepas dzuhur, setelah menuntaskan urusan dengan perhapean, perlaptopan, dan tentunya perqur'anan. Sampai disana, rumah bude saya (selalu dikunjungi pertama kali), naluri mendarah daging itu pun muncul, dari sesosok bocah kecil berusia hampir 3 tahun itu. Sekar namanya, anak dari kakak sepupu saya yang kedua. Dia lupa nama saya, walau sudah beberapa kali bertemu, tapi begitu saya parkir motor, dia langsung berdiri beberapa meter di depan motor. Mau menghampiri dengan berjalan lurus dari belakang rumah, tapi bapaknya melarang karena banyak motor sehingga jalan sempit dan knalpot saya panas.. akhirnya, Sekar berputar lewat dalam rumah dan menemui saya di depan pintu.
Lupa nama saya, akhirnya dia cukup panggil Ate (bahasa cadel dari tante). Sesi pertama menyalami orang2 yang sudah kumpul di rumah bude, dari depan sampaii belakang. Di kamar belakang ternyata ada bayi baru lahir 40 hari yang lalu, adiknya Sekar, Kinanti namanya. Ahai, akhirnya diputuskan basecamp saya di kamar belakang dengan meletakkan tas disana. Sesi pembuktian mendarah daging dimulai, saya ini sangat dekat dengan kakak2 sepupu di sana, juga termasuk Ibunya sekar. Dampaknya, Sekar langsung dekat walau dia lupa nama saya. Saat dia makan apel tanpa dipotong dan dikupas, gigitannya pun tak berarti apa-apa karena pertumbuhan giginya belum sempurna. Apel hanya berkurang sedikit, dan itu pun banyak kena kulit dengan daging seiprit, sehingga ia melepehnya berulang. Akhirnya, saya menawarkan diri untuk mengupas Apel itu, dan Sekar langsung nurut. Inget ala ibu waktu motong apel, dipotong dadu-dadu kecil, taruh di piring kecil dan dimakan pakai garpu. Itu juga yang diterapkan untuk Sekar.. Smile, tapi setelah digodain sana sini, apelnya pun dikacangin padahal baru dimakan sedikit, namanya juga anak2..
Tidak lama setelah itu, Sekar tidur siang, perhatian beralih pada Kinanti, adiknya Sekar. Baru 40 hari usianya, jadi belum bisa diajak main, tapi penglihatan dan pendengarannya sudah mulai peka. Nasib, ga pernah ada anak bayi di rumah karena ga punya adik, jadi ga berani gendong bayi baru lahir. Alhasil, stay di deket Kinan cuma ngeliatin aja, bantu nepuk2 kalau nangis, atau ngajak ngomong dia walau pastinya tak ada jawaban.. ini ni, kalau orang gede ketemu anak bayi, bisa heri (heboh sendiri). Tapi sedih saat melihat Kinan menangis, saat Ibunya bikinin susu, ditepuk-tepuk ga mau diem, dielus juga tetep nangis. Di kamar cuma ada tante sama omnya (mas saya, adiknya Ibu Kinan). Putus asa, akhirnya jujur ama Kinan aja dengan berbicara walau dia ga paham, "Kinan diem dulu ya, tantenya ga berani gendong ni.." T.T "Mas, berani gendong gak?" tanya sama si Mas, dan dia juga belum berani. "Omnya juga belum berani, jadi cep cep cep" tapi karena kita sehati abis dibilang gitu dan ditambah beberapa sentuhan langsung di tangan dan wajahnya, dia diem. Menyedihkan liat bayi nangis ga bisa diem, walau sebentar tapi ga tega rasanya.. Ternyata Kinan pasti nangis kalau dia pipis ga langsung diganti popoknya dan kalau lagi haus ga cepet dateng minumnya..
bener-bener seharian bersama Kinan, jadi lebaran saya bersama bayi, diselingi makan, shalat, dan salaman kalau ada saudara yang dateng. Sekar bangun tidur langsung mandi, setelah rapii foto-foto dikit deh atas usulan Ate-nya.. :D
Singkat cerita, semua sodara2 yang dateng udah silih berganti dan akhirnya udah pulang semua, as usual masih ada satu yang tetep tinggal kayak di rumah sendiri. Pas udah sepi, bude pakde, kabur bentar ke rumah saudara yang lebih tua karena besokannya mereka sekeluarga mudik. jadi agenda maju sehari dan rumah ditinggal. Dede Kinan ga mungkin diajak jadi Ibunya jaga di rumah, bersama saya. Siap menanti bude pulang kembali, baru pulang ke rumah karena harus nemenin Kinan dan Ibunya dulu.
Benar saja, baru ditinggal pergi sebentar, ada tamu lagi, alhasil mba menemani tamu dan saya menjaga Kinan. Fiuuh, terasa sekali ribetnya lebaran di rumah bude tahun ini, dua mba pulang kampung bersama suaminya, satu mba yang baru lahiran, dan sekar pun harus diperhatikan ekstra. Kalau tidak terjaga, Sekar bisa ngisengin adiknya dengan tindakan yang berbahaya, ngangkat2, nyubit2, bahkan iseng gigit2. Super dah keluarga kecil yang satu ini.. Alhamdulillah, bapaknya Sekar kooperatif, mau mandiin, bikinin susu, bahkan bantu bude memanaskan bakso.
Setelah semua pulaaang beneran dan ga ada tamu yang dateng lagi, baru deh kita pindah ke ruang depan semua. tapi urusan belum selesai, bude menghangatkan masak2an, Sekar makan malam dan minta disuapin sama tantenya. hehei, ini bukti mendarah daging sesi 2. Masih ada kerjaan rumah, beberes, nyapu, nyuci piring, kasihan bener bude, tinggal ada satu tenaga itu, si Mas, karena mba yang baru lahiran sesar juga masih sulit kerja berat. Sekar yang disuapin lagi main ke tetangga sebelah, nyambi dah tantenya. Udah malaaam, mau pulang, tapi sayang Budee.. Jadi tetep stay dulu, bantu yang bisa dibantu. eh sekar balik2 minta dibikini susu, padahal makannya belum abis. "Ate mau dibikinin susu dong.." celoteh Sekar minta dibuatin susu waktu liat botol susunya di tempat cuci piring.. "bentar yaa, dicuci dulu botolnya" "Mba, sekar minta bikinin susu" "Nanti aja pas dia mau tidur, bilang aja ga bisa gitu"
selesai beberapa tugas, Sekar nagih lagi, "Ate mau dibikinin susuuu" "Ga bisaaa, Ate mau ke kamar mandi dulu yaa" *ngeles sesuai perintah Ibunya. eh omnya lewat, sekar pun meminta "Omm, mau dibikinin susu..." "Ga bisaa juga", omnya langsung mengikuti jawaban saya sambil menenteng sapu kedepan.. "Ibuuuuu.." teriak sekar "Iyaa, tenang ya Ibu yang bikininn.." *ah manis sekali dengernya..
Malam semakin malam, akhirnya pulaang deh, tapi isya dulu. Sekar udah minum susu dan siap mau tidur, Dede Kinan dijaga kakeknya, neneknya malah ribet ngurus saya yang mau pulang, Mas lagi kebagian beberes untuk bebersih ruangan. Yop, back home. Rumah bude masih tetap jadi rumah keluarga yang pertama, karena saya merasakannya sejak lahir hingga kini. Keluarga bude tetap jadi keluarga pertama dalam deretan silsilah keluarga, mendarah daging.. -----------------------------------
Ternyata, jakarta lengang saat lebaran tidak berlaku untuk lalin Depok-Pasar Minggu dan sebaliknya. Macet parah, dibanding hari biasanya sampai padat merayap padahal udah pulang malaam. Fiuuh! Merayap full tanjung barat sampai depan masuk ke rumah.
sampai rumaah, mendarah daging, ya mendarah daging. tentu, ikatan mendarah daging yang sebenarnya memang tak bisa dipisahkan, walau bagaimanapun juga.
finally, at the first day, wiiin.. there is no blue.. :)
-----------------------------------
Sebelum menutup hari, sempat berbincang sejenak dengan seseorang yang juga mendarah daging. Untuk perbincangan, benarkah ikatan antara kita dapat dibuktikan lewat tulisan! Yop, come on, for the 5 in 1 story, in our relationship.. :D Tambah semangaaat, yeeeiy, I still have the one..
-----------------------------------
Berharap tak hanya di dunia, tapi juga hingga di syurga, tetap bersama..
Ada beberapa orang, yang rasanya telah mendarah daging dalam hidupmu, bagian hidupnya seperti menjadi bagian hidupmu.
ia berbuat baik, ada bahagia yang terselip, turut bahagia melihat kebaikannya. ada kebaikan yang akan diberikan orang lain untuknya, kau pun akan turut tersenyum, mendoakan agar kebaikan yang diberikan benar-benar berkah untuknya. tanpa melihatnya langsung, kau akan tetap tersenyum, karena tau orang yang kau sayangi akan mendapat kebaikan...
akankah selalu begitu? bagian hidupnya menjadi bagian hidupmu? bahagia saat orang yang menjadi bagian hidup kita bahagia, atau rasa itu akan berbalik arah saat kebahagian dan kebaikan yang diterimanya merenggut sebagian milik kita..
ah sejatinya mencintai yang tulus tidak seperti itu, apalagi untuk ia, mereka, yang telah menjadi darah daging dalam kehidupan kita.. tidak hanya cukup bahagia saat mereka bahagia, tapi juga harus menahan pedih untuk kebahagiaan mereka..
tentang orang-orang mendarah daging itu, kita tak pernah tau, seberapa besar kebaikan yang mereka berikan untuk membahagiakan kita. kita tak pernah tau, seberapa banyak butir air mata yang telah jatuh demi membuat kita bahagia.
jadi untuk mereka yang telah mendarah daging dalam diri kita, artinya siap bahagia saat bahagia, siap sedih saat ia sedih, bahkan siap sedih saat ia bahagia.. dan tidak boleh bahagia saat ia sedih..
ok, itu saja cukup, untuk menjadikan kita bertumbuh bersama..
syawal, eid mubarak, (kemarin) menjadi ladang pembelajaran, bahwa mencintai mereka yang mendarah daging juga merupakan sebuah perjuangan..
to be continued: part 2. *karena harus bergegas dan bersiap untuk silaturahim selanjutnya..
|

Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepadaku. (QS 2:152)
Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS 47:7)
When you feel all alone in this world,
And theres nobody to count your tears,
Just remember no matter where you are,
Allah knows, Allah knows..
When youre carrying a monster load,
And you wonder how far you can go,
With every step on that road you take,
Allah knows, Allah knows..
[Allah Knows, Zain Bhikha]
|